15 desember 2008,akhirnya setelah didesak oleh banyak pihak harga BBM-pun turun. Dari yang awalnya 6000/liter menjadi 5500 dan kini 5000/liter. Namun, sangat disayangkan mengapa turunnya harga BBM masih banyak kalangan yang “bisik-bisik”. Ada yang mengatakan strategi politiklah,telatlah,bla…bla..bla…
Ada apa dengan bangsa kita?Mengapa kita selalu protes?
naik salah…turun salah..
Lantas setelah harga BBM turun, apakah ini akan memperbaiki keadaan ekonomi kita..?
Apakah dengan turunnya harga BBM harga barang, khususnya kebutuhan pokok akan ikut turun?
Bahkan sampai saat ini tarif angkutan umum belum juga menurunkan tarif. Mereka beralasan turunnya harga BBM tidak akan terlalu berpengaruh, ini dikarenakan masih tingginya harga spare part kendaraan. Lantas, mengapa
ketika harga BBM naik merka langsung menaikkan tarif dengan alasan harga BBM yang naik. Jadi sebenarnya harga BBM atau harga spare part yang dijadikan mereka acuan?
Tidak bisa disangkal bahwa sejak terjadinya krisis global tahun 1997-1998 menaikkan harga barang di negeri kita tercinta ini sudah seperti “kebudayaan”. Bahkan dalam keadaan ekonomi yang baik sekalipun.
Saya teringat ketika suatu saat pernah membeli suatu barang, saya kaget ternyata harga barang tsb naik, padahal harga BBM stabil dan tidak ada kejadian heboh yang berpotensi merusak keadaan ekonomi kita. Saya pun bertanya kepada pedagang tsb “Loh, ko harganya naik Bang?”, dengan enteng pedang itu pun menjawab “Iya nih, kan dah ganti tahun, jadi barang juga naik”.Menyedihkan bukan?
Kini, di negeri kita bertambah satu kebiasaan burukyaitu bertambahnya tahun maka bertambah pula harga barang. Bukan karena naiknya harga BBM atau krisis ekonomi, melainkan keegoisan pihak tertentu yang menginginkan keuntungan dengan cara yang salah.
Saya teringat suatu hari ketika saya sedang mengikuti mata kuliah e-business, dosen saya berkata “sesungguhnya ketika krisis global 1997-1998 terjadi, bukan Indonesia yang terkena dampak terparah. Masih banyak negara yang lebih parah dari kita. Tetapi mereka mau bergerak cepat”. Saya bertaya “maksudnya bergerak cepat gimana tuh?”.Dosen saya pun tersenyum sambil menjawab “NASIONALISME, Rakyat saling membantu mendukung pemerintahannya”
Sangat disayangkan rasa/sifat NASIONALISME di dalam diri kita amat sangat lemah.Tentu kita masih ingat ketika krisis ekonomi beberapa waktu lalu, ketika harga dolar naik sehingga nilai rupiah anjlok. Apa yang dilakukan masyarakat?bukannya membantu pemerintah dengan menjual dolar tetapi malah memborong dolar secara besar-besaran Yang terpikirkan bukan lagi bagaimana cara memperbaiki keadaan ekonomi negeri sendiri melainkan bagaimana caranya saya bisa memperoleh dolar sebanyak-banyaknya lalu menjualnya agar bisa memperkaya diri…HEBAT YA…
Sampai kapan kita akan bersikap seperti ini? Sehebat-hebatnya pemerintahan suatu negara, jika masyarakatnya tidak ada kesadaran diri untuk membela negara maka negara tsb akan gagal…
Apa yang saya tulis ini pun tidak akan ada gunanya jika kita termasuk saya tidak memiliki rasa NASIONALISME…
Tidak salah jika Aa Gym mengatakan “Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang paling kecil, mulai saat ini juga”