Seringkali saya mendengar para orang tua tidak setuju ketika handak memasukkan anaknya ke dalam pondok pesantren. Meraka beranggapan lulusan pesantren masa depannya suram, lulusan pesantren ketinggalan zaman, lulusan pesantren nanti jadi teroris, lulusan pesantren cuma bisa agama doang, lulusan pesantren nggak bisa bersaing, lulusan pesantren bla..bla…bla…
Sedih sekali saya mendengarkan anggapan seperti itu. Perlu diketahui pada dasarnya pelajaran yang diberikan di sekolah umum dengan di pesantren sama, hanya saja khusus pada pelajaran agama bobotnya dilebihkan. Perbedaan yang mendasar sesungguhnya adalah fasilitas. Namun, masih banyak juga kok sekolah umum yang tidak memiliki fasilitas yang memadai. Lagipula sekarang sudah banyak bermunculan pondok pesantren moderen, atau biasa disebut pondok modern atau boarding house.
Namun yang HARUS DIINGAT, keberhasilan seseorang tidak dilihat dari fasilitas yang diterima ketika bersekolah, melainkan seberapa besar keinginan sang anak untuk maju.
Sedikit cerita dari pengalaman saya yang adalah lulusan podok pesantren Cipasung, Tasikmalaya.
Saya “dibuang” oleh orang tua saya ketika lulus SMP ke dalam sebuah pesantren di Tasikmalaya untuk sekolah SMA dan belajar ngaji di sana. Ini dilakukan orang tua saya bukan karena mereka membenci atau bosan dengan saya yang membuat mereka kesal, melainkan karena kenakalan saya sewaktu masa SMP. Sebenarnya menurut saya nggak bandel-bandel amat kok, tapi saya memang hidup di dalam suatu keluarga yang “super” ketat, dimana jam 9 malam tidak boleh keluar rumah, dilarang bolos sekolah, dilarang bolos ngaji, dilarang berbicara tidak sopan, dan masih banyak lagi.
Entah sudah berapa kali saya “dipukuli” dikarenakan saya pulang jam 9 lewat, atau karena bolos ngaji dan sekolah. Namun, iu semua adalah sebagai pertanda bahwa orang tua saya menyayangi saya.
Di masa SMP saya memang merupaka masa paling menyedihkan bagi saya dimana selain seringnya saya “dipukuli” orang tua, saya juga bergaul dengan pemakai narkoba, belajar merokok, dll.Hingga tibalah saya “dititipkan” di sebuah pesantren di Tasikmalaya.
Tiga tahun saya menjalani kehidupan “penjara suci” semasa SMA, saya menemukan jati diri saya, saya menemukan mengapa saya hidup?mengapa orang tua saya birbuat seperti itu sewaktu saya berbuat salah?dan yang terpenting saya menemukan KEDEWASAAN di tempat ini.
Tiga tahun tidak terasa saya mulai menjajaki bangku kuliah. Saya kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Sains dan Teknologi jurusan TI ( Teknologi Informasi ). Betapa shocknya saya ketika saya kuliah, dimana saya SAMASEKALI tidak mengerti apa yang dosen sampaikan. Saya melihat ke kanan, ke kiri terlihat teman-teman saya tampak paham apa yang sedang disampaikan dosen.
Sehari..Seminggu…Sebulan..Satu semester…..
Saya belum juga mengerti tentang TI/Komputer. Ini terjadi mungkin dikarenakan minimnya pelajaran komputer ketika masih di SMA. Saya pun “curhat” kepada Kakak perempuan saya, dimana saya mengungkapkan untuk pindah fakulta ke fakultas agama. Namun saya malah “dicaci-maki” olehnya.
Satu tahun saya lewati dalam keadaan “gelap gulita”. Bahkan IP saya anjlok sampai derajat 2,3….!
Teman sekelas mengucilkan saya, bahkan banyak di antara mera yang sma sekali tidak peduli dan ogah berteman dengan saya. Sungguh terlihat bodoh sekali saya waktu itu.
Namun, saya dari kejadian tersebut saya harus ambil hikmahnya yaitu : “Jadilah pandai jika ingin memperoleh yang kamu inginkan”.
Di semester tiga, saya bertekad untuk bisa bersaing dengan denga teman saya di kelas. Ketika ada waktu jeda, ketika yang lain nongkrong nggak jelas, saya memilih pulang ke kosan saya untuk belajar. Ketika dosen tidak datang, ketika yang lain asik kluyuran atau mampir ke rental untuk bermain PS saya ke kosan saya memilih ke perpustakaan. Ketika datang masa-masa remaja seperti halnya mahasiswa yang lain membeli barang-barang nggak jelas saya membeli majalah komputer atau tabloid komuter sejenis untuk diambil artikel-artikelnya….
Alhamdulillah, walau tidak terlalu tinggi IP saya mencapai 3, lumayan jika mengingat IP sebelumnya hanya 2,3. Saya memang tidak menjadi manusi jenius atau pintar di kelas, namun yang saya jadikan pelajaran adalah semua tergantung usaha saya, bahkan banyak di kelas saya yang sewaktu mas SMAnya lumayan ketika memasuki bangku kuliah malah melorot. Ini dikarenakan pola pikir dan pola belajar yang tidak dirubah ketika masih SMA.
Sampai saat ini saya harus tetap belajar..belajar…belajar…
Maksud dari cerita di atas tidak lain tidak bukan adalah TIDAK BISA DIKATAKAN BAHWA LULUSAN PESANTREN TIDAK ADA MASA DEPANNYA, SEMUA TERGANTUNG KEMAUAN KITA UNTUK MAJU…
Semoga tulisan ini bisa menginspirasikan Anda…
Salam Sukses….!!!
STUJU…!!
“Masa depan lulusan pondok pesantren suram”???
Pendapat diatas adalah salah besar, walaupun saya bukan lulusan pondok pesantren tapi waktu saya membaca tulisan diatas saya merasa sangat kecewa. Saya dibesarkan dilingkungan pondok pesantren dan kenyataanya tidak seperti itu. Malah saya merasa bodoh mengapa dulu tidak meneruskan di pondok pesantren>
Ilmu untuk mencari uang, untuk bergaul dengan masyarakat, membina keluarga, semua saya dapat dari pesantren yang ada di kampung saya.
Jadi jangan salah menilai bahwa “masa depan lulusan pondok pesantren suram”
“Masa depan lulusan pondok pesantren suram”???
Judul ini baru berupa wacana. dan tidak berarti bahwa lulusan pesantren masadepannya suram. justru sebaliknya lulusan pesantren (santri) memiliki potensi lebih yang tidak dimiliki oleh non santri. pesantren dengan nuansa religius tentunya memberikan kekuatan tersendiri bagi individu. kenyataannya pesantren mampu memberikan pencitraan agamis yang kuat sehingga ketika terjun di masyarakat memiliki modal yang cukup mumpuni karena bekalnya telah diperolehnya selama di pesantren.
pesantren bukanlah lembaga alternatif bagi remaja nakal. tidak sama sekali. tapi kalau remaja nakal kemudian dipondokkan menjadi sembuh, itu memang ada. karena pesantren dengan seabrek aktifitasnya mendidik santri mandiri, ditambah lagi dengan pendidikan agama yang cukup. ini menumbuhkan kesadaran tersendiri bagi santri.
sy sepaham dg 2 comment diatas…
sy pun merasakan, yg paling sy dapatkan ketika mengenyam pendidikan dipesantren selama kurang lebih tiga tahun adalah KEDEWASAAN….
pun tidak dipungkiri bahwa pesantren bukanlah alternatif bg remaja nakal seperti yang mas fauzan sebutkan diatas, saya setuju….
namun, itu semua kembali kepada masing2 individu….
pesantren adalah satu-satunya lembaga yang menjalankan integrasi pendidikan secara total dimana selama hampir 24 jam santri beraktifitas, mulai bangun tidur hingga menjelang tidur. aktifitas santri itu melahirkan peningkatan kesadaran bagi individu bersangkutan, sehingga menjadikan santri memiliki sifat kepribadian yang baik seperti tawadlu’ ikhlas, suka membantu dan tidak sombong. kemudian pemecahan masalah-masalah kehidupan termanifestasikan dalam dialektika kehidupan santri sehingga menjadikan dirinya mandiri dan matang.
Selebihnya pesantren mampu mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama sehingga tertanam penguatan IMTAQ dan IPTEK pada santri. bahkan pesantren tidak hanya memberikan kajian ilmu pengetahuan saja, tetapi pesantren juga memberikan fasilitas bagi santrinya dengan penguasaan bakat dan minat. buktinya telah banyak pesantren membekali santrinya dengan berbagai skil dengan program yang disediakan semisal kursus menjahit, kursus montir, kursus pertukangan dan sebagainya. ini berarti bahwa pesantren tanggap akan akselarasi zaman yang pengimbanan ilmu pengetahuan dan pengembanan skill.
bagi saya pesantren adalah salah satu lembaga yang mampu mendidik generasi yang berkemampuan dalam menghadapi percepatan zaman.
sy sngt stuju….
namun jk dikatakan pesantren dapat membentuk kepribadian yang tawadlu,ikhlas,sk membantu n tdk sombong sy kurang stuju…
3 thn sy d pesantren, bnyk sekali santri yg “terlihat lebih dr rata2″, mereka seolah2 merasa dirinya lebih dari orang lain. Memang tdk secara langsung, namun sikapnya cukup menjelaskan keangkuhan mereka. Mungkin hanya kemandirianlah yg paling terasa ketika menjalani pendidikan di pesantren.
Pesantren memang memicu kita dalam pembentukan karakter yg positif, namun sang santrilah yg menentikan hasil akhirnya, mereka yg ikhlas dan bersungguh2 menerima pendidikan maka merekalah yg akan berhasil.
visi pesantren membentuk out put yang tafaqquh fiddin dengan menyandarkan pada agama. agama membentuk pribadi yang berjiwa mandiri dan membentuk pribadi yang baik. kalau kemudian banyak orang islam yang sombong, angkuh dan memiliki sifat yang kurang baik, bukan berarti islamnya yang salah, tapi orangnya yang memang tidak terarah ke sifat itu.
begitu pula dengan pesantren dengan visi dan misinya tentunya mendidik santri menjadi berkemampuan dan memiliki sifat yang baik. tapi tidak berarti bahawa pesantren menjadi jaminan bagi sesiapa yang tinggal di pondok akan menjadi individu yang baik. itu semua terserah kepada individu yang bersangkutan. tapi secara umum pesantren mendidik santri menjadi individu yang terdidik dan memiliki sifat baik.
Pada dasarnya, tujuan akhir dari tulisan saya ini adalah untuk meyakinkan masyarakat yang menurut paham kekinian beranggapan bahwa “LULUSAN PONDOK PESANTREN SURAM” adalah SALAH BESAR.
Ibarat sekolah umum lainya yang berpredikat “UNGGULAN”, apakah semua lulusannya menjadi unggulan juga..? Apakah sekolah yang tidak berpredikat unggulan maka lulusannya tidak sebaik lulusan sekolah unggulan?
Silahkan renungkan dengan bijak,….