Rabu, 7 September 2011. Hari ini adalah hari pertama penulis menjalani “masa pengasingan”. Semua pekerjaan dan kegiatan yang selama ini penulis lakukan ditinggalkan. Ironis, penulis adalah seorang KEPALA BATU yang sangat anti “nganggur”. Tidak bisa penulis tidak melakukan apa-apa. Bahkan ketika penulis sudah bekerja sebagai pegawai dan pengajar, penulis masih menyempatkan diri untuk berdagang. Namun, ini bukan soal bekerja, bisnis, nganggur ato apapun. Ini soal masa depan, ya, masa depan.
Terbiasa dengan kegiatan, penulis mulai resah ketika tidak memiliki kegiatan dalam masa pengasingan ini. Sampai akhirnya penulis putuskan untuk kembali melanjutkan “cerita” yang sempat terbengkalai.
Masih pada blog ini, pada tab “Junk”, penulis akan coba membuat suatu cerita yang akan penulis publish setiap hari sabtu. Selamat menikmati
Posted in Buku / Novel, Other | Leave a Comment »
Pada materi sebelumnya yaitu Switching Concept penulis pernah menyinggung tentang network segment atau disebut juga dengan istilah subnetwork. Kali ini akan kita pelajari salah satu teknologi yang mirip dengan subnetwork, yaitu VLAN. Disebut mirip karena tujuannya sama, yaitu membagi suatu network menjadi bebrapa grup atau segmen.
Pada dasarnya, ketika LAN telah dibuat sesungguhnya suatu kesatuan jaringan komputer telah terbentuk. Jika misalkan dalam suatu perusahaan yang terdiri dari beberapa lantai dan departemen, biasanya LAN akan dibagi berdasarkan kriteria tertentu. LAN akan memisahkan satu network dengan network lainnya. Otomatis komunikasi data akan terbatas pada network masing-masing. Masalah akan timbul jika terdapat beberapa komputer yang harus dibentuk dalam satu kesatuan (grup atau segmen) namun memiliki lokasi yang berbeda. Akan sangat “ribet” jika kita harus membongkar tatanan fisik network yang telah ada sebelumnya bukan?
VLAN dapat mengatasi keterbatasan ini. Seorang admin dapat secara fleksibel mengatur ulang layout networknya secara virtual. Artinya kita tidak perlu membongkar media network yang sudah ada. Kegunaan lain dari VLAN adalah penggunaan switch dan router akan lebih sedikit dibandingkan dengan LAN tradisional. Dengan memanfaat VLAN kita tidak lagi dibatasi oleh kendala lokasi, komputer-komputer yang berbeda network dapat dikelompokkan ke dalam virtual LAN (VLAN).
VLAN dapat ditentukan berdasarkan lokasi, fungsi, departemen, aplikasi, dan protokol yang digunakan. Sebagai contoh : kita memiliki suatu LAN yang terbagi menjadi tiga departemen, lalu kita akan membangun tiga buah VLAN. Misalkan VLAN1 untuk semua pengguna aplikasi A, VLAN2 untuk semua pengguna aplikasi B dan VLAN3 untuk semua pengguna aplikasi C.
Posted in Networking | 2 Comments »
Dahulu, orang hanya menggunakan hub atau repeater untuk menghubungkan beberapa komputer pada sebuah network. Repeater bekerja pada layer 1 pada OSI Model. Dengan repeater, sebuah LAN dapat menjangkau area yang lebih luas. Selain itu, repeater sangat berguna untuk memperkuat sinyal. Namun repeater tidak dapat berbuat banyak manakala jumlah komputer yang terhubung semakin banyak. Network akan semakin “sibuk” dan congestion akan semakin sering terjadi.
Congestion dapat dijelaskan sebagai suatu kondisi dimana traffic data yang melalui media network telah melebihi kapasitasnya. Untuk memudahkan, bayangkan seperti jalan raya pada jam sibuk yang dilalui banyak kendaraan. Kita bisa melihat kemacetan lalu lintas di sepanjang jalan tersebut. Kira-kira seperti itulah congestion.

Kemudia orang mencoba memecahkan persoalan tersebut dengan membuat bridge. Bridge bekerja pada layer 2 pada OSI Model. Bridge dapat memecah dua buah segmen. Dengan bridge, congestion dapat dikurangi. Sayangnya, pada bridge, jika suatu komputer dari segmen pertama mengirim paket data ke salah satu komputer pada segmen kedua, maka bridge akan meneruskannya ke seluruh komputer di segmen kedua. Ini jelas tidak efisien.
Posted in Networking | Tagged konsep switching, switching, switching concept | Leave a Comment »
Sebelumnya pada artikel “Introduction Classless Routing” penulis telah menjelaskan sedikit pengertian tentang routing. Pada kesempatan kali ini penulis mencoba untuk memberikan contoh implementasi dari EIGRP. Implementasi berikut yang akan penulis berikan adalah menggunakan simpulator Packet Tracer 5.2
Konfigurasi EIGRP
Router(config)#router eigrp [AS Number]
Router(config-router)#network [network number]
Implementasi
Central
Central(config)#router eigrp 10
Central(config-router)#network 10.0.0.0
Central(config-router)#network 10.0.1.0
Central(config-router)#network 10.0.2.0
Central(config-router)#no auto-summary
Central(config-router)#^Z
Central#
Central#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration…
[OK]
Posted in Networking | Tagged EIGRP, implementasi eigrp | Leave a Comment »
Sebelumnya pada artikel “Introduction Classless Routing” penulis telah menjelaskan sedikit pengertian tentang routing. Pada kesempatan kali ini penulis mencoba untuk memberikan contoh implementasi dari OSPF. Implementasi berikut yang akan penulis berikan adalah menggunakan simpulator Packet Tracer 5.2
Konfigurasi OSPF
Router(config)#router ospf [AS Number]
Router(config-router)#network [address] [wild-card] area [area-id]
Implementasi
Central
Central(config)#router ospf 100
Central(config-router)#network 10.0.0.0 0.0.0.3 area 1
Central(config-router)#network 10.0.1.0 0.0.0.3 area 1
Central(config-router)#network 10.0.2.0 0.0.0.3 area 1
Central(config-router)#^Z
Central#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration…
[OK]
Posted in Networking | Tagged implementasi ospf, OSPF | Leave a Comment »

